<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569</id><updated>2012-01-09T07:16:57.702+07:00</updated><title type='text'>Gede on Waste</title><subtitle type='html'>Enviromental pollution: dirty, contaminating, corrupting, profaning, defiling; pencemaran (polusi) tanah, air, udara; sampah, kesehatan masyarakat, teknik (engineering) lingkungan. Limbah sesaki Bumi (earth, world): padat, sampah (solid waste, refuse), cair (liquid waste, wastewater), gas (gas waste). Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat kegiatan manusia. Day by day. Mischief has appeared on land and sea because of (the meed) that the hands of men have earned..., Qur’an, Ar Ruum:41.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-5534298946879961630</id><published>2011-09-06T22:45:00.001+07:00</published><updated>2011-10-11T05:42:16.272+07:00</updated><title type='text'>Eco-Qur’an</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Eco-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Gede H. Cahyana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. F. Schumacher, penulis buku &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kecil Itu Indah&lt;/span&gt;, berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.majalahgontor.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=444:eco-quran&amp;catid=79:khazanah&amp;Itemid=142"&gt;Majalah Gontor&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mukjizat, Al Qur’an sudah mensinyalir kerusakan lingkungan yang akan terjadi ribuan tahun kemudian. Juga berkisah tentang banjir superdahsyat ketika zaman Nabi Nuh, ribuan tahun sebelum Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi nabi akhir zaman. Apapun dan kapanpun kejadiannya, selalu saja terkait dengan dua komponen utama, yaitu air dan bumi (tanah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua material ini tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, khususnya kaum muslim. Air, tentu saja air yang bersih, suci dan menyucikan biasa digunakan untuk berwudhu. Setiap hari kita membutuhkan tak kurang dari 2,5 liter air untuk minum. Malah 65 – 75% tubuh kita terdiri atas air. Totalnya, kebutuhan air yang biasa dalam perancangan instalasi pengolah air minum &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PDAM &lt;/span&gt;adalah 120 liter per orang per hari atau satu gentong plastik yang biasa digunakan di rumah-rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditegaskan Allah Swt dalam Al Qur’an, semua makhluk hidup diciptakan dari air (al-Anbiyya: 30): “dan dari airlah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Senyawa utama sel pun adalah air. Minimal 63 kali Allah menyebutkan kata air atau yang berkaitan dengan air seperti hujan di dalam Qur’an. Tidak seperti planet lain, dua per tiga muka Bumi ini ditutupi air (danau, sungai, laut). Ada yang digunakan untuk pembangkit listrik, transportasi, rekreasi, olah raga, perikanan, dan air baku air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-9eKdZD59gYQ/TpN0b3JEYwI/AAAAAAAAANQ/CJIv4xQvBAA/s1600/Eco%2BQur%2527an%2BForest.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-9eKdZD59gYQ/TpN0b3JEYwI/AAAAAAAAANQ/CJIv4xQvBAA/s400/Eco%2BQur%2527an%2BForest.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661997178542121730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanah atau debu pun begitu, penting bagi kaum muslim untuk tayyamum ketika tidak ditemukan air atau ketika sakit. Baik wudhu maupun tayyamum adalah proses ritual awal sebelum shalat wajib dan sunnat. Air dan bumi tak bisa dipisahkan, keduanya saling mendukung. Sangat anehlah manusia ketika mengotori air dan menggurunkan tanah. Lihatlah, betapa banyak balak liar (illegal logging) yang justru dilakukan oleh kalangan terdidik, para pengusaha kaya (zaman Orde Baru disebut konglomerat) dan penguasa di pusat dan daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan manusia atas alam dan lingkungannya sudah disebut Allah Swt. Surat ar-Rum: 41 misalnya, mengulas kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, baik secara perorangan maupun kelompok, baik dalam lingkup kecil domestik, maupun komunal di pabrik dan kawasan industri. Akibatnya, Bumi kian kotor dan terpolusi sampah, limbah cair, dan polutan udara. Nyaris semua polusi itu terjadi di kota-kota, terutama di kota besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sulit dipisahkan dari planet Bumi. Tak mudah dan malah tak mungkin manusia hidup di planet lain tanpa alat bantu oksigen. Jangankan di planet lain yang berada di lain tatasurya dan lain galaksi, di planet Mars saja belum ada manusia yang mampu hidup dengan alat-alat bantu sekalipun. Artinya, manusia memang dijadikan khalifah di planet Bumi ini dan dari planet ini pulalah manusia harus mengabdi kepada Allah Swt agar ketika yang hak itu datang, yaitu kiamat, mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Kitab pun ditegaskan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Semuanya dari tanah. Sumber makanan kita, hewan dan tumbuh-tumbuhan, pun tak bisa lepas dari tanah. Bahkan Bumi dideklarasikan oleh Nabi Muhammad sebagai masjid (tempat sujud). Begitu bernilainya Bumi ini sehingga tak kurang dari 461 kali Allah menyebutnya di dalam Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya lagi, Bumi ini kaya akan tanaman. Hamparan hutan dan kebun berbunga aneka warna dapat diibaratkan pakaian indah dan harum bagi bumi (ar Rahman: 11-12). Qur’an pun menjelaskan fungsi estetika dan dekoratif tanaman yang berpengaruh pada manusia. Yang paling terasa manfaatnya adalah sebagai sumber makanan (padi, jagung, gandum), sumber buah-buahan berbagai bentuk, jenis, ukuran dan rasa serta papan untuk bahan rumah. Selain itu, keindahan tanaman tak hanya secara visual tapi lebih dari itu, mekanisme reproduksinya berpasangan secara seksologi (ar-Ra’du: 3), jantan-betina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi tanda ke-Agung-an Allah adalah keragaman binatang atau ternak (berkaki dua: unggas dan empat: sapi, kuda, kerbau, unta, domba) menjadi ornamen bagi manusia. Bisa digunakan untuk makanan, kendaraan, penggembala atau dinikmati keindahannya. Syahdan, binatang yang ‘menjijikkan’ seperti ular dan cacing yang berjalan dengan perutnya pun Allah ciptakan (an Nuur: 45). Variasi cara berbiaknya (reproduksi) juga mencirikan keagungan Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mandataris Allah, manusia adalah pembina sumber daya alam dan potensi Bumi lainnya. Manusia punya hati tempat bersemayam perasaan dan punya otak untuk berpikir. Keduanya dapat menghasilkan kebijakan dan kebajikan. Manusialah pelindung lingkungan dan mengubah dogma bahwa alam adalah semata-mata buat manusia, tanpa hirau pada makhluk lain. Oleh sebab itu, agar bencana lingkungan tidak meluas wajiblah kita mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya moral agar kita (manusia) tidak berubah dari the best (terbaik, yakni bani Adam) menjadi the beast (buas, seperti iblis). Wallahu a’lam. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-5534298946879961630?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/5534298946879961630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=5534298946879961630&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/5534298946879961630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/5534298946879961630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2011/10/eco-quran.html' title='Eco-Qur’an'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9eKdZD59gYQ/TpN0b3JEYwI/AAAAAAAAANQ/CJIv4xQvBAA/s72-c/Eco%2BQur%2527an%2BForest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-8675456039782310268</id><published>2011-09-03T08:13:00.006+07:00</published><updated>2011-09-12T06:39:55.477+07:00</updated><title type='text'>SRAU, PACITAN: The Lost Paradise?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-udlVjBK094E/TmQrJvN-A6I/AAAAAAAAAMo/Qn6KeJnI6jk/s1600/SRAU%2BBeach.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 386px; height: 255px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-udlVjBK094E/TmQrJvN-A6I/AAAAAAAAAMo/Qn6KeJnI6jk/s400/SRAU%2BBeach.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648687278923318178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;SRAU BEACH, PACITAN&lt;/span&gt;, The Lost Paradise?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau disebut surga dunia, bolehlah. Surga dalam arti tempat yang nyaman karena relatif adem. Pantai yang letaknya di Desa &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Candi&lt;/span&gt;, Kec. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pringkuku&lt;/span&gt;, Kab. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pacitan &lt;/span&gt;ini bisa dibelah menjadi tiga bagian. Yang pertama, pantai Timur, dipenuhi oleh karang-karang tajam. Karena kondisi alamnya itu, dilarang keras berenang di sini, kecuali yang sudah mengantongi sertifikat penyelam profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, pantai Tengah. Di sini banyak pengunjungnya dan bisa merendam kaki atau duduk-duduk di bibir pantai sambil rebahan di gua sebelah barat. Ada pohon-pohon seperti pandan yang tinggi-tinggi dan onggokan karang-kapur. Deretan pedagang makanan-minuman bisa menjadi penawar lapar-haus. Ada satu masjid, bisa digunakan untuk sekadar melepas lelah dan berbaring sambil dihembus angin laut. Air wudhunya agak asin atau payau tetapi bersih atau jernih sehingga tetap bisa menyegarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah belahan Barat. Di sini tampak tiga “pulau” karang yang khas tanpa satu pohon pun. Yang tumbuh hanyalah semak dan bangsa rumput-rumputan. Sebetulnya Pemda Pacitan bisa saja berupaya menanam pohon, misalnya kelapa atau pohon yang tahan kering dan tahan air asin di “pulau karang itu” sebagai penarik wisatawan dan keindahan. Tanahnya diambil dari sekitar pantai, begitu juga pohon-pohonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-CiNEpHalXuk/TmW5JYN42II/AAAAAAAAAM4/MrkDm0aixoY/s1600/The%2BSrau%2BBeach.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 264px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-CiNEpHalXuk/TmW5JYN42II/AAAAAAAAAM4/MrkDm0aixoY/s400/The%2BSrau%2BBeach.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649124878376818818" /&gt;&lt;/a&gt;Nah…, pantai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berpasir putih&lt;/span&gt; ini, meskipun kalah tinggi ombaknya kalau dibandingkan dengan pantai Kuta dan Yeh Gangga di Bali, tapi bisa bersaing pasir putihnya yang berbutir besar dan keadem-ayemannya. Satu saja yang harus segera ditanggulangi, yaitu masalah sampah. Uang yang dikutip dari pengunjung &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SRAU&lt;/span&gt;, permobil Rp25.000, dapatlah dialokasikan Rp5.000 untuk mempekerjakan petugas kebersihan. Kalau pantai ini bersih, pasir putihnya itu akan makin menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan rebahan mencoklatkan kulit, meskipun kulit kita memang sudah sawo matang. Mungkin juga wisatawan asing: bule, ras Mongoloid, Afrika, Amerika Latin, dll akan makin banyak berkunjung ke pantai di Selatan Kab. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pacitan &lt;/span&gt;ini, tempat kelahiran Pak &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Susilo Bambang Yudhoyono&lt;/span&gt;, presiden Indonesia saat ini. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-PyRXZbbbUsc/TmRFIhFHzmI/AAAAAAAAAMw/z5-3AIPuFqM/s1600/Oh%2BSrau%2BBeach%2Bof%2BPacitann.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 241px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-PyRXZbbbUsc/TmRFIhFHzmI/AAAAAAAAAMw/z5-3AIPuFqM/s400/Oh%2BSrau%2BBeach%2Bof%2BPacitann.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648715845250567778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-8675456039782310268?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/8675456039782310268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=8675456039782310268&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/8675456039782310268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/8675456039782310268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2011/09/srau-lost-paradise-kalau-disebut-surga.html' title='SRAU, PACITAN: The Lost Paradise?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-udlVjBK094E/TmQrJvN-A6I/AAAAAAAAAMo/Qn6KeJnI6jk/s72-c/SRAU%2BBeach.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-8215935340409044029</id><published>2010-10-28T11:42:00.000+07:00</published><updated>2010-10-28T22:09:50.271+07:00</updated><title type='text'>Sumpah Sampah PLTSa</title><content type='html'>Sumpah Sampah PLTSa&lt;br /&gt;Oleh Gede H. Cahyana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2010 kali ini bersamaan dengan rentetan bencana dari Sabang sampai Merauke. Ada kecelakaan kereta api, bis, ledakan tabung gas dan trafo PLN, kebocoran air minum, kematian buruh di dalam pipa air limbah, kebakaran hutan, banjir bandang, bendungan jebol, pasang air laut, gempa, tsunami, erupsi, debu vulkanik, gas beracun dan... sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di bawah ini bukanlah untuk melontarkan sumpah serapah, apalagi menghina dengan kata-kata kasar, melainkan sebagai refleksi dan sarana akupuntur ruhani. Bencana alam, percaya atau tidak, adalah jarumnya yang paling steril dari intrik kepentingan, vested interest karena menimpa semua orang, tanpa kecuali, tanpa salam, tanpa izin, tanpa kulo nuwun. Sebagai jarum akupuntur, bencana (baca: musibah) justru akan menyembuhkan dalam jangka panjang dan menjadi materi pembelajaran bagi yang belum “ditusuk-jarum”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-**-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah daun, sisa nasi, bubur, dan sayur-mayur.&lt;br /&gt;Kami adalah ranting, cabang, dan batang pohon tepi jalan.&lt;br /&gt;Kami adalah sabitan rumput halaman rumah, kantor, kebun.&lt;br /&gt;Kami adalah plastik, pralon, kain perca, juga karet ban sepeda. &lt;br /&gt;Kami adalah kertas, besi, kaleng pembasmi nyamuk-tikus, pestisida.&lt;br /&gt;Kami pun adalah kumpulan tong kimia beracun dan gumpal berangkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, yaitu sampah Kota Bandung, bersumpah demi Trilogi Pendidikan: sains, teknologi, dan lingkungan untuk kesehatan insan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersumpah menolak sekuat-kuatnya konspirasi yang ingin membakar kami di dalam insinerator berkedok pembangkit listrik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersumpah bahwa badan kami sarat racun dan mudah menyebar ke seluruh daerah lewat tiupan angin kalau kami dibakar. Kami tak peduli siapa orangnya, apa status sosialnya, apa pendidikannya, kalau kami sudah berubah menjadi abu dan gas toksik di dalam kepul cerobong PLTSa, maka jangan salahkan kami ketika datang bencana garang. Yang miskin pasti sakit, yang kaya pun kena. Tetapi.., kami prihatin kepada yang miskin, mereka tak mampu berobat apalagi kalau harus ke luar negeri. Tak ada Askes, tak ada Jamsostek, tak ada Jamkesmas untuk ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah sampah yang berserakan antara Elang dan Cibiru, sepanjang daulat Trans Metro Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami minta tolong kepada makhluk bernama manusia, yaitu insan mulia, untuk menegaskan kondisi kami kepada orang-orang yang pro-PLTSa bahwa kami sangat miskin energi. Kami betul-betul melarat. Badan kami kebanyakan berisi air. Kami hanyalah sampah basah. Saudara kami yang anorganik pun sering basah kena hujan. Potensi energi kami tak setara dengan kerusakan lingkungan air, tanah, udara dan kematian tanaman, hewan, dan manusia. Rantai makanan terkontaminasi, terjadi biomagnifikasi, dan ujungnya... manusia juga yang rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acapkali kami kabarkan tentang bahaya laten kami apabila kami dibakar di PLTSa. Tapi mereka tak jua percaya. Apakah mereka tuli, bisu, buta? Dengan alasan kesehatan, mereka tak percaya pada risiko PLTSa. Alasan ekosistem, juga bergeming. Alasan pendidikan, tak dilirik. Alasan hukum, malah senyum dikulum. Semua alasan itu sudah kami sampaikan secara baik-baik lewat berbagai media. Lantas...., alasan apalagi yang harus kami unjukkan? Apalagi, apa lagi, lagi apa? (gila apa!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini barangkali jalan terakhir kami. Kami capek, kami lelah, kami lemah, kami menua. Kami jauh lebih bahagia ketika badan kami dikerubuti bakteri aerob, bakteri anaerob, amoeba, cacing, protozoa, metazoa, atau dipatuk dan dikais hewan lapar kemudian bermanfaat bagi tumbuhan. Kami pun bersukacita ketika didaur ulang atau digunakan kembali oleh manusia karena tubuh renta ini ternyata masih bermanfaat bagi kalangan “cilik”. Ternyata badan kami masih bisa mendulang uang bagi orang-orang kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah sampah yang berserakan antara Jalan Setiabudi dan Tol Padaleunyi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan pamungkas sudah pasti. Ingin kami silaturahmi maya dengan Pak Presiden SBY. Pak Presiden yang kami hormati, semoga angin mengantarkan desah keluh kesah kami. Kini kami tak berdaya lagi untuk membendung rencana pembangunan PLTSa. Sebagai sampah yang paham karakteristik kimia, fisika, dan biologi kami, maka kami mohon Pak Presiden SBY menggunakan kekuatan politik Bapak untuk membendung arus deras orang-orang di eksekutif, legislatif, pengusaha, akademisi, dll yang bersikeras membuat PLTSa di Bandung Raya. Bapak adalah nakoda kapal yang di dalamnya ada sekumpulan orang yang akan melubangi kapal, demi... entahlah demi apa. Demi kian..., demi kain, demi iank, demi aink!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yakin, ketegasan politis Bapak dapat membatalkan rencana pembangunan pabrik racun itu. Tolonglah kami Pak, hindarkan kami dari siksa api dunia. Hindarkan kami dari kejahatan insinerator bertopeng pembangkit listrik. Dukungan Pak Presiden akan menolong kami dan juga mencegah genosida spesies tumbuhan, hewan, dan manusia di Bandung Raya. Atas banjir rutin di Jakarta, Bapak tanggap. Banjir bandang Wasior, Bapak gerak cepat. Merapi meletus, Bapak respons positif. Tsunami Mentawai, Bapak ke sana. Lantas..., “rencana” bencana laten PLTSa, bagaimana Pak? Tsunami memang tidak menghampiri kami. Wedhus gembel juga tidak. Banjir pun hanya berupa genangan, tak seperti “tsunami” darat di Wasior. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sekali monster PLTSa itu tegak berdiri, maka 24 jam sehari selama-lamanya racunnya menjadi bencana maut bagi 7,7 juta orang di Priangan, jauh lebih banyak daripada korban Tsunami Aceh. Calon korbannya jauuuh lebih banyak daripada jumlah semua korban bencana di atas. Kira-kira logika apa yang merasuk di pikiran bawah sadar mereka, kok kami yang kebanyakan berupa sampah domestik – organik ini akan dibakar kemudian mengepulkan abu dan gas beracun yang menyebar ke segala arah. Membakar batubara saja sudah menimbulkan deretan masalah lingkungan dan kesehatan, apalagi membakar sampah dari ribuan jenis zat berbahaya dan beracun. Semoga ada pakar hipnosis dan hipnoterapis yang rela menata ulang alam bawah sadar mereka, atau minimal mengondisikan agar gelombang otak mereka berada di alfa dan theta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Presiden yang kami hormati. Andaikata gempa, tsunami, dan letusan Merapi dapat digolongkan sebagai bencana alam, maka kami berharap tidak akan pernah ada bencana dahsyat lainnya akibat ulah manusia, yakni bencana yang betul-betul akibat kesalahan fatal pejabat negara di pusat dan daerah dalam menangani masalah lingkungan. Pejabat yang bijak pasti mengeluarkan kebijakan yang sarat kebajikan bagi semua orang atau mayoritas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tanggapan positif Bapak atas permohonan kami, yaitu sampah berserakan di cekungan Bandung pada ketinggian di atas 600 m dpl ini diridhai oleh-Nya. Kami pun ikut berdoa semoga rangkaian bencana tersebut memberikan hikmah kepada manusia Indonesia, khususnya para pejabat agar menapaki jejak kebenaran, meninggalkan tapak kebatilan, dan membatalkan pembakaran kami di dalam neraka insinerator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berdoa, korban yang lebih dulu “disayang” oleh alam, “dirangkul” oleh Bumi, semoga diampuni dosa-dosanya, dimaafkan kesalahannya dan dibangunkan “rumah” di surga sebagai pengganti rumah “buruk” meskipun berupa gedung megah di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, untaian bencana (baca: musibah) tersebut mudah-mudahan menjadi jarum akupuntur bagi ruhani manusia, khususnya pejabat publik (public servant: pelayan masyarakat) yang menyembuhkan pada saatnya nanti. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 28 Oktober 2010&lt;br /&gt;Atas nama sampah Kota Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Daun Sayur Plastik Karet) &lt;br /&gt; -------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/topic.php?uid=59547489167&amp;topic=15071"&gt;Menuju grup Tolak PLTSa.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat anggota grup Tolak PLTSa, prosi (prosa-puisi) di atas barangkali menjadi tulisan terakhir saya tentang PLTSa di Kota Bandung. Sebab, pada November 2010 nanti tiada guna lagi menulis hal-hal yang berkaitan dengan PLTSa karena proses awal pembangunannya sudah mulai. Kita tinggal siap-sedia “memanen” keburukannya. Siapa yang menabur angin, dia yang menuai badai. Badai berwujud abu dan asap beracun alias “wedhus gembel” letusan PLTSa. Semoga demikian adanya. Jangan sampai orang yang tidak menabur angin ikut kena bencana. Kalaupun tetap saja kena penyakit, semoga dosa dan kesalahannya dilimpahkan kepada para penabur angin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, semoga sahabat tetap sehat lahir dan batin dan mampu beradaptasi dengan monster PLTSa. Salam: Gede H. Cahyana).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-8215935340409044029?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/8215935340409044029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=8215935340409044029&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/8215935340409044029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/8215935340409044029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2010/10/sumpah-sampah-pltsa.html' title='Sumpah Sampah PLTSa'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-115907834351692494</id><published>2006-09-24T13:00:00.000+07:00</published><updated>2006-09-24T13:12:23.530+07:00</updated><title type='text'>Olah Fosfat dengan Sequencing Batch Reactor</title><content type='html'>Selain sungai, badan air yang potensial dijadikan air baku bagi PDAM adalah waduk seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling. Namun demikian, tak selalu kualitas air waduk itu memenuhi baku mutu air baku apalagi kalau melibatkan berbagai kepentingan: PLN, perikanan, pertanian, dan wisata. Interaksi beragam aktivitas dalam satu badan air itu dapat menimbulkan masalah air. PDAM misalnya, perlu air baku berkualitas standar, tak terlimbahi pakan ikan, limbah wisatawan, dan limbah pertanian. Semua limbah itu mengandung pencemar fosfat sehingga dianggap "musuh" oleh PDAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, fosfat memang tidak seperti zat organik yang mudah disisihkan dengan teknologi konvensional. Senyawa yang dalam air berupa fosfat organik dan/atau fosfat anorganik (polifosfat dan ortofosfat) ini morfologinya bisa tersuspensi, bisa terlarut atau terikat dengan biomassa algae dan sel bakteri. Karakteristiknya ialah: (1) polifosfat: senyawa ini dapat dihidrolisis menjadi fosfat organik; (2) ortofosfat; (3) organik-P, banyak terkandung di dalam air limbah domestik, industri dan sludge biomassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenis Teknologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis teknologi yang diterapkan untuk menurunkan kadar fosfat, yaitu proses fisikokimia dan biologi (advanced treatment). Keduanya dapat digabungkan berupa proses bio-fisikokimia yang intinya adalah mengubah fosfat menjadi bentuk yang dapat dipresipitasi menggunakan senyawa kimia berupa aluminum (tawas dan sodium aluminat), besi (ferro klorida, ferri klorida, ferro sulfat, ferri sulfat), kapur dan polimer. Alum dan ferri klorida baik digunakan sebagai inti presipitator daripada kapur terutama jika digabungkan dengan polimer. Adapun presipitasi kalsium fosfat banyak terjadi pada siang hari ketika kadar CO2-nya turun, alkalinitas bikarbonatnya berkurang dan pH airnya meningkat karena ada fotosintesis algae. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun demikian, ada jenis algae yang dapat melakukan fiksasi C dan N langsung dari gas CO2 dan N2 di udara. Akibatnya, pertumbuhan algae tetap saja berlangsung jika dalam air masih ada sejumlah P walaupun C dan N sudah dihilangkan dengan proses pengolahan biologi. Untuk mengendalikan agar tidak terjadi algal bloom, maka senyawa P harus dijadikan faktor pembatas pertumbuhan algae. Disebut di atas, penyisihan P dapat dilakukan secara fisikokimia yaitu dengan mengendapkannya dalam bentuk aluminum fosfat, ferri fosfat atau hidroksil apatit. Proses ini cukup rumit dan mahal sehingga digunakan alternatif pengolahan biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan penyisihan zat organik di dalam pengolahan biologi konvensional  (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;activated sludge, trickling filter&lt;/span&gt;) yang dapat mencapai 85 - 95%, penyisihan nutrien (nitrogen dan fosfat) hanya terbatas pada kebutuhan bakteri untuk pertumbuhannya. Sisa N yang tidak dimanfaatkan akan dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat sehingga harus diterapkan proses tambahan lagi berupa denitrifikasi. Perbandingan kebutuhan senyawa C, N dan P untuk pertumbuhan mikroba adalah 60 : 3 : 1. Dengan demikian, tampak jelas bahwa penyisihan N dan P dalam pengolahan biologi konvensional sangat kecil dibandingkan dengan C (C dinyatakan dalam BOD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip bioproses tersebut memanfaatkan senyawa fosfat untuk sintesis sel. Fosfat dibutuhkan oleh mikroba untuk pertumbuhannya dan disimpan intraselular sebagai polifosfat. Penyisihan dilakukan oleh sekelompok mikroba aerob yang disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phosphorus Accumulating Organisms (PAO) seperti Acinetobacter, Aeromonas, Arthrobacter, E. coli, Klebsiella, Microthrix, Proteus, Pseudomonas dan Xantobacter&lt;/span&gt;. Pengayaan activated sludge dengan PAO di atas memerlukan siklus aerob dan anaerob dan sekarang telah dikembangkan sejumlah teori untuk menjelaskan fenomena bio-removal fosfat secara biologi. Yang paling dapat diterima adalah lingkungan anaerob menggunakan produk fermentasi seperti asetat dan melepaskan fosfat untuk memperoleh energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sequencing Batch Reactor&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem pengolahan air limbah, reaktor adalah unit fisik yang di dalamnya terjadi transformasi zat. Dalam pengolahan biologi, reaktor adalah tangki yang mengandung biomassa penanggung jawab transformasi biokimia. Untuk mendapatkan reaksi biokimia yang berbeda, reaktor memerlukan berbagai input influen pengondisi biomassa seperti aerasi, pengadukan, pembubuhan zat kimia dll. Influen dapat dibubuhkan ke dalam reaktor secara ajek maupun sesaat. Reaktor yang alirannya ajek atau menerus disebut reaktor ajek (kontinu) dan yang lainnya disebut reaktor tadah (batch reactor). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh aplikasi reaktor tadah (batch) pengolah air limbah yang kian luas diterapkan sekarang adalah SBR. Pada reaktor ini, lumpur aktif diendapkan setelah terjadi reaksi, efluennya dibuang dan selanjutnya influen baru air limbah dimasukkan. Periode antara kedua penambahan influen tersebut dinamai siklus dan berulang terus secara teratur. Pada sistem SBR ini, jumlah tangkinya bisa hanya satu tapi bisa juga banyak tangki pengolah dan masing-masing memiliki lima operasi dasar yaitu isi (fill), reaksi (react), endap (settle), buang (draw) dan siaga (idle).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat fill, influen air limbah dimasukkan ke dalam biomassa sehingga volume air di dalam tangki bertambah hingga taraf maksimum. Ada tiga cara fill yaitu static fill (tanpa pengadukan atau aerasi), mixed fill (pengadukan tanpa aerasi), dan aerated fill. Tahap fill dihentikan jika tangki sudah penuh. Reaksi biokimia yang dimulai pada saat fill akan selesai selama tahap react. Reaksi dibedakan menjadi dua, bergantung pada konsentrasi oksigen terlarut: (1) mixed react (konsentrasi oksigennya rendah atau kondisi anoxic /anaerobic) (2) aerated react (konsentrasi oksigennya tinggi). Pembuangan lumpur atau sludge selama react adalah cara yang sederhana untuk mengendalikan umur lumpur. Akhir dari fase reaksi ditentukan oleh waktu atau taraf air di dalam tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah fase endap (settle). Selama fase ini terjadi pemisahan lumpur di dalam tangki dengan volume lebih dari 10 kali daripada klarifir konvensional yang digunakan di dalam activated sludge konvensional. Perlakuan ini menjamin lapis lumpur (sludge blanket) tetap tertinggal di dalam tangki pada saat fase buang (draw) dan tidak ikut meluap sebelum proses draw selesai. Kecuali itu, sludge juga dapat dibuang pada saat proses settle selain selama proses react. Lumpur yang dibuang pada akhir settle lebih pekat daripada selama react. Ancaman prosesnya bisanya adalah lumpur apung (rising sludge). Untuk meniadakan masalah lumpur apung ini, panjang waktu sesi draw sebaiknya jangan terlalu lama dan dapat digunakan pipa dengan bantuan pompa benam (submersible). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah draw usai, tangki siap menerima masukan baru air limbah lagi. Pada beberapa modifikasi SBR, setelah tuntas tahap draw tersebut, tangki harus menunggu dulu. Jika prosesnya seperti ini maka periodenya disebut siaga (idle). Begitulah siklus prosesnya. Tampak bahwa SBR dapat berfungsi sebagai sistem lumpur aktif konvensional kontinu. Perbedaan utama antara kedua sistem tersebut adalah SBR dapat berfungsi sekaligus sebagai ekualisasi, aerasi dan sedimentasi. SBR sangat fleksibel sehingga dapat digunakan dalam skala lab maupun skala lapangan. Begitu pun, SBR mampu mengolah air limbah kaya fosfat yang sulit dilaksanakan dengan bioproses klasik konvensional. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-115907834351692494?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/115907834351692494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=115907834351692494&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115907834351692494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115907834351692494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2006/09/olah-fosfat-dengan-sequencing-batch.html' title='Olah Fosfat dengan Sequencing Batch Reactor'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-115664812746451068</id><published>2006-08-27T10:07:00.000+07:00</published><updated>2006-08-27T10:08:47.483+07:00</updated><title type='text'>PLTS atau Waste to Energy?</title><content type='html'>Setelah lama bersilang pendapat dengan sejumlah elemen masyarakat, akhirnya pemerintah Kota Bandung mendapat angin segar setelah ITB dan PLN bersepakat akan membuat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Malah kini ketiganya, yaitu ITB, PLN, dan pemkot Bandung (Pikiran Rakyat, Rabu, 2/8/06) berencana membuat PLTS atau waste to energy (WTE). Mereka bersikeras membangun teknologi pemunah sampah secara insinerator yang dilengkapi generator meskipun ditentang banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara substansi, PLTS maupun WTE adalah setali tiga uang. Istilah dan sumber dananya “mungkin” berbeda tetapi proses dan dampak polusinya tetap sama. Dari sisi polusi lingkungan dan kesehatan, PLTS dan WTE jauh lebih bahaya daripada sistem disposal sanfil (sanitary landfill) dan buang bebas (open dumping) lantaran pencemarnya dapat menyebar ke dalam tanah, air, dan udara seluas-luasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencemar udara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tingginya keberacunan (toksisitas) PLTS atau WTE karena menghasilkan partikulat debu-abu, gas pembentuk asam klorida, fluorida, dan sulfur dioksida, juga logam berat merkuri, kadmium, seng, nikel, timbal, dll. Karbon organik volatilnya membentuk furan (polychlorinated dibenzofurans, PCDF) dan dioksin (polychlorinated dibenzo-p-dioxins, PCDD). Semua polutan itu mudah tersebar ke segala arah lewat udara, melekat di daun, sayur, buah, sumber air, paru hewan ternak dan paru manusia lalu beredar ke pembuluh darah. Di sanfil hal tersebut tidak terjadi sebab logam-logam beratnya terlarut di dalam lindi, tanpa dioksin, dan tanpa furan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan sanfil, WTE pun menebarkan bau selama koleksi dan transportasi sampah dan penanganannya di instalasi. Ceceran sampah terjadi di mana-mana seperti halnya komposting dan sanfil. Hanya saja dalam WTE gas yang lewat pada lapisan sampah mengekstraksi abu, debu, dan arang lalu membawanya ke cerobong dan ke luar ke udara bebas. Umpan WTE pun tak boleh telat agar produksi energinya stabil sehingga lalu-lintas truk demikian intensif, dikejar-kejar waktu. Reduksi jumlah sampah justru tidak diharapkan di sini. Makin banyak sampah makin disukai agar target energinya tercapai sehingga seolah-olah masyarakat harus membuang sampah sebanyak-banyaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi, semua uap logam dan campurannya dapat mengembun membentuk aerosol partikel submikron yang berbahaya bagi paru. Begitu pun senyawa lain dalam sampah dan campuran klor, fluor, sulfur, dan nitrogen menghasilkan gas toksik dan korosif. Ketika pembakarannya tak sempurna, muncullah produk pirolisis karbon monoksida, volatile organic compound seperti polycyclic aromatic hydrocarbon, dioksin, furan, jelaga, dan tar. Abu adalah pencemar yang paling jelas, tampak secara visual berupa kepulan yang mengandung uap logam berat, dioksin dan furan. Di permukaan jelaganya pun disarati gas asam klorida dan fluorida yang semuanya dipengaruhi desain insinerator, pemanggang, ukuran dan bentuk ruang pembakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ukurannya variatif, mulai kurang dari satu mikron sampai 75 mikron, ada partikulat yang mudah masuk ke sistem pernapasan kita. Kira-kira 40% partikel berukuran 1 sampai 2 mikron tertahan di bronkioli dan alveoli paru. Yang ukurannya antara 0,25 sampai 1 mikron justru mudah ke luar masuk lewat udara pernapasan. Tapi yang kurang dari 0,25 mikron akan melekat di paru. Untuk menyisihkannya biasanya ditangani dengan kolektor debu seperti mekanikal separator, wet scrubber, atau fabric filter. Partikel berukuran 15 – 75 mikron secara efektif dipisahkan dengan cyclones sampai efisiensi 85%, dan yang ukurannya lebih kecil dipisahkan dengan fabric filter atau presipitator elektrostatik. Namun demikian, efisiensinya tak bisa sempurna 100% sehingga yang tak tersisihkan itulah yang berbahaya bagi kesehatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua partikel berbahaya itu muncul dari sampah. Timbal dari sampah cat dan kaleng, merkuri dan kadmium dari baterei, aluminum foil, alat plambing, lembar seng, garam-garam volatil. Logam tu mudah menguap karena titik didihnya rendah. Titik didih kadmium 765 oC, merkuri 357 oC, arsen 130 oC, PbCl (timbal klorida) 950 oC, dan HgCl2 302 oC. Semua spesiasi logam tersebut bergantung pada keberadaan klor, sulfur, karbon, nitrogen, fluor selama pembakaran dan pendinginan gasnya. Reaksi dengan klor menghasilkan metal klorida, seperti merkuri klorida. Senyawa tersebut berdampak buruk pada kesehatan, meliputi neurological atau nervous system (syaraf), hepatic system (hati), renal system (ginjal), hematopoietic atau blood-forming system (darah).  Kadmium menyerang pernapasan, ginjal, hipertensi, dan tulang. Merkuri menyerang sistem syaraf pusat, mengurangi penglihatan, sensori, pendengaran dan koordinasi tubuh. Timbal dapat mendisfungsi sistem hematologik dan syaraf pusat, merusak fungsi gastrointestinal, reproductive, endocrine, cardiovascular, immunologic, menurunkan taraf kecerdasan serta menyebabkan perilaku abnormal pada anak. Polycyclic aromatic compound, dioksin dan furan merusak paru, perut, ginjal, skrotum, dan liver. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya rusak pencemar tersebut dicetuskan oleh senyawa berklor dari plastik, potongan PVC, kertas, karton dll. Dipastikan 60% asam klorida berasal dari PVC, 36% berasal dari kertas. Yang lebih reaktif dan korosif lagi adalah asam fluorida dengan emisi tipikalnya 3 sampai 5 mg per m3. Begitu pun NOx dan SOx yang dapat berubah menjadi asam kuat, asam nitrat dan asam sulfat. Semuanya berkontribusi pada hujan asam yang kaya logam berat, lalu diserap tanaman sayur dan rumput pakan ternak. Efek lainnya ialah kerusakan bangunan, pagar, mobil, motor, kebun, tanaman, dan hutan, termasuk korosi logam di WTE sehingga perlu biaya perbaikan. Belum lagi iritasi kulit dan kerusakan sumber air PDAM yang otomatis menaikkan ongkos produksinya dan berujung pada kenaikan tarif airnya. Luas sekali dampak buruknya, lebih banyak buruknya ketimbang baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pencemar tanah-air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Air adalah senyawa penting dalam WTE dan terlibat signifikan dalam pembersihan pencemar terutama partikulat fly-ash dan bottom-ash. Selain kuantitas, kualitasnya pun harus memenuhi syarat minimal sebagai air penangkap partikulat. Air juga digunakan untuk keperluan domestik di instalasi WTE. Semua air bekas tersebut berubah menjadi air limbah yang potensial mencemari air tanah dan air sungai. Air limbahnya kaya logam berat dan garam anorganik, temperaturnya tinggi, sangat asam dan pada saat yang lain bisa menjadi sangat basa. Mudah berubah-ubah bergantung pada kondisi sampahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber utama air limbahnya adalah pengolahan gas (flue gas), baik dari air untuk scrubber flue gas, maupun alkali scrubber untuk gas asam dan kerak sisa pembakaran insinerator. Sumber lainnya dari olahan air baku untuk scrubber (scrubber water pretreatment) dan air untuk boiler. Air limbah ini ber-pH kurang dari 1,3 (sangat asam) dan kaya logam berat nikel, seng, kadmium, merkuri dan timbal. Walaupun logam berat dalam air limbah dari flue-gas itu ditambah kapur untuk presipitasi, tetap saja sekitar 60% masih terkandung di dalamnya. Sisanya inilah yang potensial mencemari air. Bahkan lumpur presipitatnya masih mengandung logam berat sehingga harus ditangani khusus, tak bisa dibuang begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan kerak bottom-ash di pemanggang insinerator juga sumber air limbah yang karakternya mirip dengan fly-ash. Bottom-ash merepresentasikan 70% - 90% total abu dan kaya oksida mineral. Inilah karakter utama insinerator, logam beratnya sangat tinggi di bottom-ash dan di fly-ash. Potensinya ini bergantung pada spesiasi logam, pH dan ukuran partikel. Makin kecil ukurannya makin besarlah potensi paparan dengan pelarutnya. Pada pH rendah pelindian tembaga, nikel, timbal, seng, dan kadmium makin besar. Tapi riset lain menyatakan, air yang kontak dengan fly-ash cenderung basa. Inilah sifat amfoter, tinggi pada semua pH, berbahaya dalam semua kondisi. Tambah besar lagi bahayanya kalau ada kegagalan operasi dan teledor dalam perawatan. Dalam tahap awal operasinya boleh jadi semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Tapi setelah sekian tahun, apalagi kalau ada kendala teknis yang mengharuskan suku cadangnya diimpor, mulailah timbul masalah. Belum lagi kalau ada kesulitan dana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insinerator yang dikemas dalam PLTS atau WTE memang cara mudah pemunah sampah, apalagi berlindung di balik frase “sumber energi”. Tetapi di baliknya ada ancaman ekologi dan kesehatan manusia apalagi kalau bermunculan banyak PLTS atau WTE di sekujur cekungan Bandung. Bencana ekologi terbesar akan menjalar dari Bandung.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-115664812746451068?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/115664812746451068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=115664812746451068&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115664812746451068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115664812746451068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2006/08/plts-atau-waste-to-energy.html' title='PLTS atau Waste to Energy?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-115318126670522312</id><published>2006-07-18T07:01:00.000+07:00</published><updated>2006-07-18T07:07:46.723+07:00</updated><title type='text'>Risiko Waste to Energy</title><content type='html'>Di mana-mana insinerasi selalu menyulut kontroversi. Bukan hanya investasinya yang menyedot dana masyarakat, melainkan juga karena risiko polusi, operasi-rawat dan ketersediaan tenaga terampil terdidiknya yang jadi masalah. Suku cadangnya pun harus bergantung pada pemasoknya di luar negeri sehingga berdampak pada kelancaran operasinya. Di Indonesia apalagi, khususnya di kota gunung seperti Bandung yang cekung, efek buruknya diduga kian menjadi-jadi sehingga &lt;strong&gt;waste to energy &lt;/strong&gt;(WTE) memicu polemik. Pihak pro adalah kalangan yang terkait dengan projek itu dan pemerintah kota sedangkan yang kontra berasal dari LSM dan masyarakat yang tak rela kotanya menjadi lautan abu yang sarat zat berbahaya-beracun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pro-kontra itu, tulisan ini berupaya objektif melihat risiko WTE dari sudut pandang lingkungan dan kesehatan. Di negara maju periset yang banyak meneliti insinerator menegaskan bahwa emisi polutan WTE jauh lebih bahaya daripada sistem disposal sanitary landfill (sanfil) atau bahkan buang bebas (open dumping). Ini lantaran pencemarnya dapat menyebar ke dalam tanah, air, dan udara seluas-luasnya ke segala penjuru. Akibat bentang alamnya, cemaran di Bandung akan kian parah karena udaranya tak bisa bebas bergerak sehingga terakumulasi dan makin bahaya akibat toksisitasnya tinggi dalam paparan singkat. Tidak demikian dengan sanfil dan buang bebas. Cemaran kedua cara klasik ini hanya terpusat di sekitar lokasi. Andaipun meluas, aliran lindinya pasti ke arah yang lebih rendah, tidak ke segala arah, apalagi seluas-luasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencemar udara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mengapa jenis dan keberacunan (toksisitas) WTE jauh lebih banyak dan lebih bahaya daripada sanfil? Ada satu jawabnya, yaitu WTE menghasilkan partikulat debu dan abu, gas-gas pembentuk asam klorida, fluorida, dan sulfur dioksida, juga logam-logam berat merkuri, kadmium, seng, nikel, timbal, dll. Tak ketinggalan karbon organik volatil pembentuk furan (polychlorinated dibenzofurans, PCDF) dan dioksin (polychlorinated dibenzo-p-dioxins, PCDD). Semua polutan itu dengan mudah tersebar ke segala arah lewat udara, melekat di daun, sayur, buah, sumber air, paru hewan ternak lantas beredar ke seluruh dagingnya dan paru manusia lalu beredar ke pembuluh darahnya. Di sanfil hal tersebut tidak terjadi sebab logam-logam beratnya terlarut dalam lindi, tanpa dioksin, dan tanpa furan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan sanfil, WTE pun menebarkan bau selama koleksi, transportasi dan penanganannya di instalasi. Ceceran kotoran bisa terjadi di mana-mana seperti halnya komposting dan sanfil. Hanya saja dalam WTE gas yang lewat pada lapisan sampah mengekstraksi abu, debu, dan arang lalu membawanya ke aliran gas cerobong dan ke luar ke udara bebas, dihembus angin sejauh-jauhnya. Umpan WTE pun tak boleh telat agar produksi energinya tak berkurang sehingga lalu-lintas truk demikian intensif, dikejar-kejar waktu. Reduksi jumlah sampah justru tidak diharapkan di sini. Makin banyak sampah makin disukai karena target energinya tercapai sesuai kontrak. Seolah-olah masyarakat harus membuang sampah sebanyak-banyaknya. Pemulung pun mungkin tak boleh lagi mengais sampah. Hal demikian tak pernah terjadi pada sanfil; sanfil relatif lebih ecofriendly dan bersahabat dengan pemulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya lagi, semua uap logam dan campurannya dapat mengembun membentuk aerosol partikel submikron yang berbahaya bagi paru. Begitu pun senyawa lain dalam sampah dan campuran klor, fluor, sulfur, nitrogen dan lain-lain menghasilkan gas-gas toksik dan korosif. Ketika pembakarannya tak sempurna, muncullah produk pirolisis karbon monoksida, volatile organic compound seperti polycyclic aromatic hydrocarbon, dioksin, furan, jelaga, dan tar. Partikulat abu adalah pencemar yang paling jelas, tampak secara visual berupa kepulan yang mengandung uap logam berat, dioksin dan furan. Di permukaan jelaganya pun disarati gas-gas asam klorida, fluorida, sulfat, dll yang semuanya dipengaruhi desain insinerator, pemanggang, ukuran dan bentuk ruang pembakarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ukurannya variatif, mulai dari satu mikron (bahkan kurang dari satu mikron) sampai yang terbesar 75 mikron, ada partikulat yang mudah masuk ke sistem pernapasan kita. Kira-kira 40% partikel berukuran 1 sampai 2 mikron akan tertahan di bronkioli dan alveoli paru. Yang ukurannya antara 0,25 sampai 1 mikron justru mudah ke luar masuk lewat udara pernapasan. Tapi yang kurang dari 0,25 mikron akan melekat akibat gerak Brown (Brownian motion). Untuk menyisihkannya, biasanya ditangani dengan kolektor debu seperti mekanikal separator, wet scrubber, atau fabric filter. Partikel berukuran 15 – 75 mikron secara efektif dipisahkan dengan cyclones sampai efisiensi 85%, dan yang ukurannya lebih kecil dipisahkan dengan fabric filter atau presipitator elektrostatik. Namun demikian, efisiensinya tak bisa sempurna 100% dan yang tak tersisihkan itulah yang potensial membahayakan kesehatan, makin lama makin tinggi konsentrasinya di udara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana asal logam berbahaya itu? Dari sampah tentu saja; timbal dari sampah cat dan kaleng, merkuri dan kadmium dari baterei, aluminum foil, alat plambing, lembar seng, garam-garam volatil dst. Logam dan garam-garam itu mudah menguap karena titik didihnya rendah. Titik didih kadmium 765 oC, merkuri 357 oC, arsen 130 oC, PbCl (timbal klorida) 950 oC, dan HgCl2 302 oC. Semua spesiasi logam tersebut bergantung pada keberadaan klor, sulfur, karbon, nitrogen, fluor dan lain-lain selama pembakaran dan pendinginan gasnya. Reaksi dengan klor menghasilkan metal klorida; merkuri misalnya, akan membentuk senyawa yang terikat dengan halogen, yaitu merkuri (II) klorida (ini yang dominan) dan merkuri (I) klorida. Hanya peralatan canggih yang dapat menghilangkan logam berat volatil seperti merkuri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampaknya luar biasa pada kesehatan, meliputi neurological atau nervous system (syaraf), hepatic system (hati), renal system (ginjal), hematopoietic atau blood-forming system (darah).  Kadmium misalnya, menyerang pernapasan, ginjal, hipertensi, dan yang paling ekstrim adalah kerapuhan tulang dan sendi. Merkuri menyerang sistem syaraf pusat sehingga mengurangi penglihatan, sensori, pendengaran dan koordinasi tubuh. Timbal dapat mendisfungsi sistem hematologik dan syaraf pusat, merusak fungsi gastrointestinal, reproductive, endocrine, cardiovascular, immunologic, dan menurunkan taraf kecerdasan serta menyebabkan perilaku abnormal pada anak. Polycyclic aromatic compound, dioksin dan furan merusak paru, perut, ginjal, skrotum, dan liver. Beratnya lagi, dan ini tak terjadi pada sanfil, produk dioksin dan furan melekat pada abu dan air limbah WTE. Karena efek buruknya itulah dioksin dikenal sebagai “ the most toxic chemical known to man”. Dampaknya mampu merusak generasi lewat cacat genetis, merusak kromosom pembawa informasi keturunan (genetika), pencetus kanker (karsinogenik) dan mutagenik (pemutasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya rusak pencemar tersebut dicetuskan oleh senyawa berklor dari plastik, potongan PVC, kertas, karton dll. Dipastikan 60% asam klorida berasal dari PVC, 36% berasal dari kertas. Yang lebih reaktif dan korosif lagi adalah asam fluorida dengan emisi tipikalnya 3 sampai 5 mg per m3. Begitu pun NOx dan SOx yang dapat berubah menjadi asam kuat, asam nitrat dan asam sulfat. Semuanya berkontribusi pada hujan asam yang kaya logam berat, lalu diserap tanaman sayur dan rumput pakan ternak. Efek lainnya ialah kerusakan bangunan, pagar, mobil, motor, kebun, tanaman, dan hutan, termasuk korosi logam di WTE sehingga perlu biaya perbaikan. Belum lagi iritasi kulit dan kerusakan sumber air PDAM yang otomatis menaikkan ongkos produksinya dan berujung pada kenaikan tarif airnya. Luas sekali dampak buruknya, lebih banyak buruknya ketimbang baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pencemar tanah-air&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dimungkiri, air adalah senyawa penting dalam WTE dan terlibat signifikan dalam pembersihan pencemar terutama partikulat fly-ash dan bottom-ash. Selain kuantitas, kualitasnya pun harus memenuhi syarat minimal sebagai air penangkap partikulat. Air juga digunakan untuk berbagai keperluan domestik di instalasi WTE. Semua air bekas tersebut berubah menjadi air limbah yang potensial mencemari air tanah dan air sungai. Air limbahnya kaya logam berat dan garam anorganik, temperaturnya tinggi, sangat asam dan pada saat yang lain bisa menjadi sangat basa. Mudah berubah-ubah bergantung pada kondisi input sampahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber utama air limbahnya adalah pengolahan gas (flue gas), baik dari air untuk scrubber flue gas, maupun alkali scrubber untuk gas asam dan kerak di insinerator. Sumber lainnya dari olahan air baku untuk scrubber (scrubber water pretreatment), dan pengolahan air untuk boiler. Air limbah ini ber-pH kurang dari 1,3 (sangat asam) dan kaya logam berat nikel, seng, kadmium, merkuri dan timbal. Walaupun logam berat dalam air limbah dari flue-gas itu ditambah kapur untuk presipitasi, tetap saja sekitar 60% masih terkandung di dalamnya. Sisanya inilah yang potensial mencemari air. Bahkan lumpur presipitat itu pun masih mengandung logam berat dan harus ditangani khusus, tak bisa dibuang begitu saja. Itu sebabnya, pengolahan harus dilanjutkan dengan penambahan TMT 15 (trimercapto-s-triazine) dan “diharapkan” bisa disisihkan sampai batas yang diizinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan kerak bottom-ash dari pemanggang insinerator juga menjadi sumber air limbah yang karakternya mirip dengan fly-ash. Bottom-ash merepresentasikan 70% - 90% total abu yang kebanyakan mengandung oksida mineral. Inilah karakter utama insinerator, logam beratnya sangat tinggi di bottom-ash dan di fly-ash. Potensinya ini bergantung pada spesiasi logam, pH dan ukuran partikel. Makin kecil ukurannya makin besarlah potensi paparan dengan pelarutnya. Pada pH rendah pelindian tembaga, nikel, timbal, seng, dan kadmium makin besar. Tapi riset lain menyatakan, air yang kontak dengan fly-ash cenderung basa. Inilah sifat amfoter, tinggi pada semua pH, berbahaya dalam semua kondisi. Tambah besar lagi bahayanya kalau ada kegagalan operasi dan teledor dalam perawatan. Human error-nya tinggi. Dalam tahap awal operasinya boleh jadi semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Tapi setelah sekian tahun, apalagi kalau ada kendala teknis yang mengharuskan suku cadangnya diimpor, mulailah timbul masalah. Belum lagi kalau ada kesulitan dana. Sejumlah insinerator di rumah sakit bernasib demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insinerator memang cara mudah pemunah sampah. Syaratnya adalah banyak uang. Tapi di baliknya ada ancaman ekologi dan kesehatan manusia. Adakah solusinya? Sejauh ini yang lebih envirofriendly adalah komposting dan/atau sanfil terkendali dan taat asas (konsisten). Jika konsisten pada desain, aturan main dan mau capek sedikit pasti akan lancar-lancar saja. Yang dibutuhkan pemerintah memang tak hanya kecerdasan intelektual (&lt;strong&gt;intelectual intelligence&lt;/strong&gt;) tapi juga kecerdasan aspirasi (&lt;strong&gt;aspiration intelligence&lt;/strong&gt;) agar berpandangan jauh ke depan demi kepentingan banyak orang, bukan orang per orang.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah dosen Universitas Kebangsaan Bandung&lt;br /&gt;http://gedehace.blogspot.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-115318126670522312?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/115318126670522312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=115318126670522312&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115318126670522312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115318126670522312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2006/07/risiko-waste-to-energy.html' title='Risiko Waste to Energy'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-115208128244186930</id><published>2006-07-05T13:33:00.000+07:00</published><updated>2007-06-11T18:38:50.975+07:00</updated><title type='text'>Waste to Energy: Wasted Energy!</title><content type='html'>&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/05/0902.htm"&gt;Pikiran Rakyat, 5 Juli 2006&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waste to energy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Inilah slogan yang sering dikutip media massa cetak, baik yang terbit di Bandung maupun Jakarta. Televisi lokal Bandung pun ikut-ikutan mengampanyekannya. Kian terkenal lagi setelah walikota Bandung terang-terangan mengatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waste to energy&lt;/span&gt; adalah final, tak bisa ditawar-tawar lagi. Mutlak harus dibangun, katanya. Betulkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaji Banding&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam filsafat ilmu telah jamak diterapkan uji-kaji banding demi hasil optimal tanpa harus membuang-buang waktu, tenaga, daya dan uang apalagi sesal. Jika ada dua atau lebih opsi, maka biasa diterapkan analisis alternatif untuk mencapai hasil terbaik yang layak dengan beragam metode statistik. Yang layaklah yang akan diambil lalu digunakan sebagai acuan perancangan dan berujung pada rencana anggaran biaya yang boleh jadi murah tapi bisa juga mahal nilainya. Sebab, tak selamanya kelayakan teknologi berkorelasi linier dengan kelayakan investasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sampah Bandung? Betulkah telah ada kaji banding atas sejumlah opsi teknologi persampahan? Tentu bukan jalan-jalan ke luar negeri: ke Cina, ke Australia yang dimaksud di sini. Itu bukanlah kaji banding melainkan tandang muhibah, untuk tidak menyebut tamasya, ke negara maju yang karakter sampahnya berbeda dengan Bandung. Keduanya di atas Indonesia dalam hal kelompok negara "maju dan berkembang". Apalagi dalam ranah filsafat ilmu, kaji banding selalu menyertakan aspek kelayakan sainstek dengan mengetengahkan sejumlah aspek seperti lingkungan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;environment&lt;/span&gt;), ekologi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ecology&lt;/span&gt;), ekonomi, demografi, klimatologi, topografi, geologi, politik dan budaya setempat (sosiologi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah hal tersebut dilaksanakan? Bagaimanapun, teknologi masif yang sifatnya massal akan melibatkan semua penduduk kota (sebab semua orang menimbulkan sampah) sehingga besar pula dampak buruknya. Karena itulah kaji banding menjadi kemestian sebagai rambu dalam mengambil keputusan agar tidak keliru. Salah satu dari deretan kajian itu adalah jenis sampah, apakah termasuk yang sulit ataukah mudah terbakar. Inilah salah satu faktor penentu keberhasilan waste to energy yang notabene adalah insinerator. Mungkinkah 100% sampah Bandung tergolong mudah terbakar? Tak mungkin! Sejumlah riset di beberapa kota besar di Indonesia yang berlokasi di pantai menghasilkan angka 70% - 80% berwujud sampah basah, sulit terbakar. Di pinggir pantai saja demikian, apatah lagi di kota pegunungan seperti Bandung. Akan tambah parah lagi kondisinya selama musim hujan, insinerator akan berubah menjadi panci perebus air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, layakkah (baca: efisienkah) &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sampah basah dibakar&lt;/span&gt;? Ilustrasinya sederhana. Mana yang lebih mudah, membakar daun yang baru saja dipetik dari ranting ataukah membakar daun rontok yang kering? Bandingkan lagi dengan kertas kering dan plastik, mana yang paling sulit terbakar? Kita tahu jawabnya. Daun segar hijau sangat sulit dibakar. Habis sebungkus korek api pun belum tentu terbakar. Andaipun terbakar, pada tahap awal, airnyalah yang menguap. Baru setelah itu, setelah daunnya kering, api melalapnya pelan-pelan. Hal yang sama berlaku untuk sampah basah, baik dari rumah maupun pasar. Pada saat yang sama, semua sampah keringnya seperti kertas, karton, kardus, botol plastik dll sudah diambil pemulung. Seolah-olah insinerator rebutan sampah dengan pemulung. Kecuali pemerintah tega melarang dan menangkap pemulung yang mereduksi sampah di sumbernya. Mungkinkah? Bijakkah kebijakan ini andaikata terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, jenis dan komposisi sampah memegang kunci cocok tidaknya diinsinerasi. Ia adalah elemen penting dalam memilih teknologi pengelolaan dan pengolahannya sekaligus menentukan manajemennya mulai dari sumber, pengumpulan, transportasi, dan di TPA (tempat pengolahan akhir). Semuanya harus memenuhi syarat kesehatan, konservasi lingkungan, teknologi, dan ekonomi. Segmen kesehatan dan konservasi belum mendapat porsi perhatian di Bandung. Aspek teknologi pun belum apa-apa, semuanya menerapkan sistem buang bebas atau open dumping. Syarat ekonomi apalagi, tak semua orang dipungut retribusinya yang berarti terjadi ketidakadilan di masyarakat. Yang membayar rekening listriknya di bank terhindar dari retribusi. Padahal sangat boleh jadi mereka menghasilkan jenis dan jumlah sampah yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, waste to energy hanyalah slogan yang tidak responsif atas aspirasi mayoritas orang Bandung dan berbau janji-janji, terbuai oleh istilah Inggris yang terasa gagah. Slogan itu seolah-olah “membodohi” orang Bandung, baik kalangan tak terdidik maupun terdidik karena belum paham cara penanganan sampah. Seorang keluaran sekolah S3 pun belum tentu paham persampahan. Apalagi perilaku membuang sampah tidak linier dengan tingkat pendidikan. Banyak kalangan terdidik, baik pensiunan maupun yang masih aktif bekerja, membuang sampah sembarangan sekehendak hatinya, tak hanya di rumahnya tapi juga di tempat-tempat umum. Itu sebabnya, pendidikan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;intelectual intelligent&lt;/span&gt;) dan pembangunan etika (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;emotional intelligent&lt;/span&gt;) menjadi porsi penting dalam penanganan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola didik itulah yang mesti digencarkan oleh pemerintah lewat publikasi berupa buku, poster dan pelatihan di tingkat akar rumput RT-RW. Hasilnya memang tak akan tampak dalam setahun dua tahun. Boleh jadi setelah satu generasi barulah tampak hasilnya jika programnya berkesinambungan dan meluas. Alih-alih waste to energy, pemberdayaan masyarakat dalam hal persampahan lebih kena lewat program 7R (&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;reduce, reuse, recycle, replace, recovery, relocation, dan responsible&lt;/span&gt;) yang dikelola terpadu. Termasuk menyajikan materi lingkungan di sejumlah kurikulum SD, SMP, SMA dan PT sesuai porsinya masing-masing. Bantuan dari penggerak sektor informal pun bisa ditempuh lewat pondok pesantren, madrasah, kelompok pengajian dan ketua adat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wasted Energy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waste to energy&lt;/span&gt; bagi sampah Bandung secara lugas bisa dikatakan sebagai “perjudian” yang taruhannya milyaran. Besar sekali unsur coba-cobanya, diintai oleh untung-buntung alias gambling. Sebelum terlambat, hendaklah niat itu diurungkan saja agar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waste to energy&lt;/span&gt; tidak berubah menjadi wasted energy, yaitu energi habis sia-sia. Semua energi dalam bentuk tenaga kerja, olah pikir, dana masyarakat, dan insvestasi yang ditanam menjadi nirguna. Kalau pun ada gunanya, itu hanyalah berguna bagi investornya. Selebihnya adalah derita masyarakat. Selain tak cocok untuk sampah Bandung, insinerasi juga menyisakan abu yang potensial mencemari air tanah. Di dalamnya kaya akan garam-garam anorganik sehingga dampak polusinya lebih parah ketimbang lindi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanitary landfill &lt;/span&gt;(sanfil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi energinya juga dipertanyakan, belum lagi keterangkutannya. Betulkah dari 7.000 m3 per hari sampah Bandung akan mampu diangkut ke insinerator? Taruhlah daya angkut per truk kira-kira 10 m3; berarti dibutuhkan 700 truk. Andaikata setiap truk bisa tiga rit sehari maka dibutuhkan tak kurang dari 233 truk termasuk supirnya. Ditambah sepuluh persen truk dan sopir cadangan, total kebutuhannya minimal 250-an truk. Sekian juga jumlah sopirnya yang harus bekerja setiap hari. Ini sangat berat dan membutuhkan manajemen yang andal. Sopir angkot saja tidak setiap hari bertugas tapi berselang-seling. Jika demikian, akan dibutuhkan 500 orang atau lebih sopir truk. Potensi lapangan kerja bagi sopir memang ada namun dampak buruknya jauh lebih mahal daripada itu, yaitu kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macet adalah keseharian kota Bandung. Apalagi kalau sampah di luar Bandung dikirim ke Bandung, kemacetan pasti menjadi-jadi. Orang-orang makin stres karena bau busuk sampah terhirup siang malam selama 24 jam. Tak ada waktu istirahat bagi truk kalau tidak mau telat mengirimkan umpan sampah ke insinerator. Telat sedikit saja dapat membuyarkan operasi insinerasi sehingga daya listriknya fluktuatif. Belum lagi problem lingkungan, terutama pencemar berupa partikulat dan gas CO2, SOx. Parahnya lagi, Bandung raya berada di cekungan yang mirip wajan sehingga angin yang lewat di atasnya bisa menghalangi pencemar untuk lepas ke atmosfer. Polutannya malah berputar-putar ke sana-sini meskipun efisiensi penyisihan abunya sangat tinggi, misalnya 99%. Sisa satu persen saja akan menjadi tinggi setelah sekian lama terakumulasi di udara Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi problem kebutuhan airnya untuk membersihkan kerak dan cuci-cuci. Sangat boleh jadi ada rebutan sumber air dengan PDAM, pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan keperluan binis perdagangan. Sortasi sampah pun menimbulkan masalah tersendiri, yaitu pemilahan sampah tak terbakar agar tak masuk ke insinerator. Berangkal, batu, bata, pasir, dan logam-logam, meskipun ada magnetic separator atau ferrous metal recovery tetap saja penimbul masalah. Selain milyaran investasinya, ongkos operasi-rawatnya pun melebihi negara maju yang sampahnya berkalori tinggi, misalnya rerata 12.000 kJ per kg. Berapa kalori sampah Bandung? Di negara itu pun kegagalan operasi insinerator banyak terjadi lantaran terbentur masalah biaya dan teknis. Biaya hendaklah tidak membebani masyarakat tapi tidak berarti dibebaskan dari biaya. Warga tetap harus berkontribusi demi kenyamanan hidupnya, bebas sampah dan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sebelum terlambat, urungkanlah upaya membangun "pabrik" &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waste to energy&lt;/span&gt; yang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; business oriented&lt;/span&gt; lalu gantilah dengan "pabrik" yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;community oriented&lt;/span&gt;, yaitu pengomposan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;composting&lt;/span&gt;) secara personal, komunal, dan regional. Atau, pilihlah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanitary landfill&lt;/span&gt; (sanfil) terkendali dan taat asas. Semoga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waste to energy&lt;/span&gt; tidak menjadi &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;wasted energy&lt;/span&gt;, energi yang habis sia-sia dan mubazir. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-115208128244186930?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/115208128244186930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=115208128244186930&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115208128244186930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115208128244186930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2006/07/waste-to-energy-wasted-energy.html' title='Waste to Energy: Wasted Energy!'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912569.post-115104440759387239</id><published>2006-06-23T13:22:00.000+07:00</published><updated>2006-06-23T13:33:27.603+07:00</updated><title type='text'>Pak Dudu Cikapundung</title><content type='html'>Pukul delapan pagi saya sudah sampai di jembatan Siliwangi. Sepintas saya menengok ke bawah. Air Sungai Cikapundung bergolak hebat dan tampak coklat. Keruh sekali. Beberapa onggok ranting, kayu dan dedaunan tersangkut di pinggir bangunan sadap milik PDAM Kota Bandung. Mendung menggayut. Sisa-sisa awan hujan semalam tampak kelam. Di utara kota, Gunung Tangkubanparahu seperti lenyap. Dingin mendesir-desir kulit. Sambil mengibas-ngibaskan tangan, saya menuju saung di tepi utara jalan Siliwangi. Di sana Pak Dudu sudah menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah datang, Den?" sapanya ramah, bangkit dari kursi kayunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru saja, Pak." Saya dipersilakan duduk di kursi satunya lagi. Sekejap kemudian, Bu Maman, istri Pak Dudu, datang membawa gorengan. Saya ditawari minum tapi dengan halus saya tolak. Bukan apa-apa, saya hanya ingin cepat-cepat ke sungai dan cepat selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang agak banjir, Den. Tadi malam deras sekali airnya," katanya sambil menikmati gorengan. "Mudah-mudahan bapak bisa mengumpulkan batu-batu itu hari ini. Air kelihatan tinggi dan keruh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kira-kira berapa lama bapak mengumpulkan batu-batu itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mudah-mudahan cepat, Den. Nanti dibantu anak-anak sepulang sekolah. SD-nya di Cihampelas." Telunjuknya lurus ke barat daya dari tempat duduk kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelas berapa, Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang pertama kelas enam, adiknya kelas tiga, Den."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening pun jatuh. Sejenak. Kami terlibat dalam pikiran masing-masing. Setelah cukup waktu, kami turun lewat bagian utara jembatan Siliwangi. Guyuran hujan semalam membuat licin jalan setapak dan rumput di kanan-kiri berisi air. Celana pun basah. Sepatu kets saya makin kotor, licin dan berat. Sambil menerabas rumput, Pak Dudu bercerita. Sungai itu, ketika dirinya masih kanak-kanak, sangat jernih airnya. Tak ada banjir seperti ini. Pak Dudu tak tahu jawabannya. Tak tahu kenapa air bisa tiba-tiba besar dan keruh. Padahal hujan cuma rintik-rintik dan tidak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan saya melihat gundukan batu yang setiap hari dikumpulkan Pak Dudu. "Bagaimana kalau yang ini, Den?" tanyanya sambil menjumput kerikil lalu mengusap-usap pasir yang menempel di permukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih kecil sedikit daripada yang ini, Pak" Saya lalu mengais-ngais tumpukan kerikil dan mengambil sebuah. "Sebesar ini, Pak!" Setelah menyerahkan kerikil itu saya menatap arus sungai yang deras. Orang dewasa pun pasti terseret olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang sebesar ini banyak, Den. Tapi agak lama. Kira-kira dua hari baru selesai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak apa-apa, Pak. Saya perlu batu ini lima hari lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---***---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terjadi delapan tahun lalu, tahun 1998, lima bulan setelah reformasi dan rusuh massal. Pekan lalu, Juni 2006 ini saya tak lagi bertemu Pak Dudu. Tak ada lagi orang yang pernah membantu saya mencari kerikil Cikapundung. Entah ke mana mereka pindah, saya tak tahu. Zaman berubah, Cikapundung kian parah. Kerikilnya makin sulit dikumpulkan. Lumpur erosi dari utara mengucur, membenamkan kerikil dan menghanyutkannya ke hilir. Kecuali sampah yang menumpuk, airnya tambah keruh dan membebani instalasi PDAM Badaksinga sekaligus memperkaya polutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Cikapundung adalah salah satu sumber air warga Bandung dan menjadi sumber uang bagi Pak Dudu ketika itu. Tapi sekarang, polusi dan erosi mencuri sebagian sumber air warga Bandung dan sumber nafkah keluarga bawah. Maka, kalangan pemkot, DPRD, ormas, dan pengusaha yang antusias membuka Punclut, yang menurut pakar lingkungan Prof. Dr. Otto Soemarwoto dan DPKLTS akan memperparah kondisi Cikapundung pada masa datang, pastilah tak pernah merasakan menjadi Pak Dudu, tak pernah ke sisi sungai. Terlebih lagi dampak pembukaan Punclut akan berlawanan dengan Gerakan Cikapundung Bersih (GCB) yang justru dinobatkan oleh walikota Bandung. Kebijakan yang tidak bijak, kebijakan parsial, tidak integral demi laba segelintir orang Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekadar informasi, kerusakan Kawasan Bandung Utara (KBU) mencapai 70% padahal daerah itu dijadikan kawasan lindung dan daerah tangkapan hujan bagi cekungan Bandung. Potensi airnya 0,25 x 1,2 milyar m3 per tahun atau 60% dari sumber pasokan air tanah Kota Bandung. Pada musim kemarau, potensi air yang bisa dimanfaatkan hanya 10% atau 28.750.000 m3 per tahun, padahal kebutuhannya 182.500.000 m3 per tahun. Jadi sudah sangat defisit. Menurut prediksi National Geographic, pada tahun 2015 nanti kota Bandung akan berpenduduk 5,3 juta jiwa dengan kebutuhan air 386.900.000 m3 per tahun berbasis 200 liter per orang per hari&lt;/span&gt; (Sumber: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2006/04/dr-ir-mubiar-purwasasmita-orasi-ilmiah.html"&gt;Mubiar Purwasasmita&lt;/a&gt;, DPKLTS)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampah jadi masalah, jangan pula air makin parah.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912569-115104440759387239?l=gedehacewaste.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/feeds/115104440759387239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912569&amp;postID=115104440759387239&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115104440759387239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912569/posts/default/115104440759387239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewaste.blogspot.com/2006/06/pak-dudu-cikapundung.html' title='Pak Dudu Cikapundung'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
